Here’s the synopsis according to Internet Movie Database: Adrienne Willis (Diane Lane), a woman with her life in chaos, retreats to the tiny coastal town of Rodanthe, in the Outer Banks of North Carolina, to tend to a friend's inn for the weekend. Here she hopes to find the tranquility she so desperately needs to rethink the conflicts surrounding her – a wayward husband who has asked to come home, and a teen-aged daughter who resents her every decision. Almost as soon as Adrienne gets to Rodanthe, a major storm is forecast and a guest named Dr. Paul Flanner (Richard Gere) arrives. The only guest at the inn, Flanner is not on a weekend escape but rather is there to face his own crisis of conscience. Now, with the storm closing in, the two turn to each other for comfort and, in one magical weekend, set in motion a life-changing romance that will resonate throughout the rest of their lives.
Both Gere and Lane are mature movie stars who shared the screen before in Unfaithful. I think they transpired better chemistry in Unfaithful than in Nights in Rodanthe.
Although it’s too soapy for me but there are always some things to learn from their experience – for a patient that lost his loved one in your operating room, he doesn’t need your technical explanation why you couldn’t save his wife’s life but most of all he just needs you to look in his eyes and say how sorry you are; love brings the same excitement and groovy-kind-of-feelings whether you’re teenager or middle-age persons – just be open to it; and it hurts to receive back your love letters in a box full of mementos that belong to your deceased loved one.
There’s a scene that’s very touching during the face-to-face and heart-to-heart conversation between the patient and Dr. Flanner – “Do you know the color of her eyes? It’s brown and soft…. She never asked a thing to me in her life. This operation was the only thing that she ever asked from me. She said she wanted to be beautiful for me. For me she’s beautiful with or without the cyst on her face. She’s a very good lady. I looked past beyond her face. We married for 43 years.”
I’m no helpless-romantic sucker but it’s nice to cling on the idea that a love and marriage could last that long.
I love that house on the beach...
Seperti puisi yang kautuliskan
Seperti nyanyi yang kaulantunkan
Seperti senyum yang kausunggingkan
Seperti pandang yang kaukerlingkan
Seperti cinta yang kauberikan
Aku tak pernah, tak pernah merasa cukup
Berhari-hari baru dapat kuendapkan letupan perasaan yang melambungkan itu.
Aku kemudian menjumpai kerabat-kerabat terdekat. Semuanya sepakat dan mengatakan bahwa aku akan sebahagia sepupuku jauhku Arai sekarang.
”Sudah tiba waktumu, Bujang, menetaplah, mencari nafkah, berkeluarga, mulia sekali,” ujar bibiku yang terharu sampai berurai-urai air matanya.
Seminggu setelah A Ling mengatakan agar aku mencurinya dari pamannya, malam itu, kami berjanji berjumpa di pasar malam untuk naik komidi putar. Malam itu pula aku akan menyampaikan rencanaku pada ayahku. Aku berjanji untuk menyampaikan kabar gembira pada A Ling nanti jika kami bertemu di pasar malam.
Usai magrib yang senyap, Ayah duduk di kursi malasnya. Sepi. Aku menghampirinya. Ia bangkit dari kursinya. Hanya kami berdua di ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak. Dengan hati-hati kusampaikan pada Ayah bahwa aku sudah berbicara dengan keluarga perempuan Ho Pho itu. Dengan amat cermat pula kumohon agar Ayah sudi mengizinkanku meminangnya. Kami berdiri mematung dalam jarak beberapa depa. Tiba-tiba senyap menyergap ruangan dan tubuhku dingin melihat Ayah memandangku penuh kesedihan. Ayah bergetar-getar. Ia seperti tak mampu menanggungkan perasaannya. Air matanya mengalir pelan. Napasku tercekat dan aku seolah akan runtuh karena dari pantulan cahaya lampu minyak aku melihat wajah ayahku. Matanya kosong, wajahnya pias, aku tahu, aku tahu makna wajah Ayah, bahwa ia mengatakan tidak.
Aku terkesiap. Ayah yang tidak pernah mengatakan tidak untuk apapun yang kuminta, Ayah, yang mau memetikkan buah delima di bulan untukku, telah mengatakan tidak, untuk sesuatu yang paling kuinginkan melebihi apapun. Ayah mengepalkan tangannya erat-erat untuk menguatkan dirinya. Air matanya mengalir deras sampai berjatuhan ke lantai. Tak pernah seumur hidupku melihatnya menangis. Aku tak mampu berkata-kata. Ruh seperti tercabut dari jasadku. Aku terkulai.
Aku membawa apapun yang dapat kubawa dalam sebuah karung kecampang. Lapangan Padang Bulan telah kosong ketika aku tiba. Pasar malam telah redup, komidi tak lagi berputar, lampu-lampunya telah dimatikan. Yang terdengar hanya suit angin.
Di tengah hamparan ilalang, A Ling berdiri sendirian menungguku. Kami hanya diam, tapi A Ling tahu apa yang telah terjadi. Ia terpaku lalu luruh. Ia bersimpuh dan memeluk lututnya. Matanya semerah saga. Ia sesenggukan sambil meremas ilalang tajam. Seakan tak ia rasakan darah mengucur di telapaknya. Ia menarik putus kalungnya, menggulung lengan bajunya, dan memperlihatkan rajah kupu-kupu hitam di bawah sinar bulan. Kukatakan padanya bahwa aku tak kan menyerah pada apapun untuknya dan akan ada lagi perahu berangkat ke Batuan. Kukatakan padanya, aku akan mencurinya dari pamannya dan melarikannya. Aku akan membawanya naik perahu itu dan kami akan melintasi Selat Singapura.
Perlahan awan kelabu di langit turun menjadi titik gerimis. Butirnya yang lembut serupa tabir putih menyelimuti tubuh kami.
Jadi, saudara-saudara, ini bukan cerita happy end. Hiks, hiks…
Buku ini demikian berharga, karena dia berisi cerita sesungguhnya tentang kebajikan yang masih sangat kita butuhkan menjadi inspirasi dan semangat untuk berjuang: rendah hati, ikhlas, menghormati orangtua, memegang janji, semangat pantang menyerah, semangat belajar hal-hal baru, dll. Semua contoh kebajikan ini disampaikan tanpa kalimat-kalimat menggurui.
Aku percaya Ikal itu cerdas. Aku percaya hanya orang cerdas yang dapat menerjemahkan rumus-rumus membuat kapal dari Lintang, si genius tiada tara, dalam waktu 7 bulan; dapat menerjemahkan bahasa-bahasa kiasan Mahar, si dukun nyentrik, yang memberikan petunjuk mencari kayu seruk; dapat bermain biola secara ilmiah (walau harus dilakukannya 700 kali hingga ia dapat memainkan satu lagu, Rayuan Pulau Kelapa); dan dapat mengingat kembali apa yang telah diajarkan padanya tentang cara membaca alam (rasi bintang, arah angin, dan laut) dalam pelayaran nekadnya ke Batuan mencari A Ling.
Kalau aku punya sepuluh jempol, kuberikan semuanya untuk buku ini – sepuluh jempol untuk cerita yang dituliskan demikian jujur dan tulus, dengan semangat untuk berbagi. Kalaupun suatu ketika aku bertemu penulisnya, aku akan bertanya apakah dia sungguh membuat kapal asteroid itu dan sungguh membawanya berlayar menerjang 1400 km laut dan badai menuju Batuan dengan segala keangkeran dan misterinya demi seorang perempuan. *senyum*
Kita semua tahu bagaimana Arai berjuang mendapatkan cinta Zakiah Nurmala sejak SMA. Berkali-kali mencoba dengan segala cara, berkali-kali pula ditolak. Tapi Arai tak pernah mundur atau berpaling pada perempuan lain, ia tak pernah putus asa atau putus harapan.
[Hlm 200-201] Karena aku tahu, sejak Arai mengenal Zakiah kelas satu SMA dulu, dan jatuh cinta untuk kali pertamanya, sedetikpun ia tak pernah berpaling pada perempuan lain. Sepanjang waktu itu, belasan tahun, ia telah mengalami berupa-rupa cobaan paling pahit, bertubi-tubi, dari kemungkinan seorang lelaki ditolak. Arai tak setapak pun mundur.
Kuingat, malam tanggal 16 Mei itu. Malam yang takkan kulupa. Arai menikahi Zakiah di rumah kami. Usai mengucapkan ijab kabul, ia mengaji Al-Quran, seperti dulu ketika kami masih kecil setiap habis magrib. Dan tak berubah, masih seperti dulu, jika ia mengaji, semua orang tercenung, diam terpaku, apa pun yang sedang dikerjakan terhenti, yang dipegang dilepaskan. Karena setiap lekuk tajwid yang dilantunkan Arai adalah jerit getir kerinduan nan tak tertahankan pada ayah-ibunya. Suara Arai mengalun pelan, menyelusupi lika-liku jalan setapak, merayap menuju pondok panggung di tengah ladang tebu, beratapkan daun, berdinding kulit lelak kayu meranti. Tak kan pernah hilang dalam ingatanku, anak kecil delapan tahun sebatang kara itu, menepis air mata cemas di pelupuk matanya, menunggu aku dan ayahku menjemputnya. Bajunya seperti perca, timpang dan berkancing tak lengkap, buku-buku kumal tak bersampul diapit lengan-lengannya.
Ia mengaji menyayat hati, dalam bahagia yang perih, sesak dadanya ingin mengabarkan pada ayah-ibunya bahwa ia telah menemukan belahan hatinya, telah memutus simpai keramatnya. Suaranya pilu menusuk-nusuk malam, air matanya bercucuran.
Kalau Arai tak pernah putus harapan walau selalu ditolak Zakiah, begitu juga Ikal yang tak pernah putus asa mencari A Ling. Lewat buku Edensor, Andrea bercerita tentang pengalaman Ikal mencari A Ling selama di Eropa dan Afrika. Nah, di buku ini dia menceritakan bagaimana usahanya mencari A Ling ketika dia mendengar bahwa mayat-mayat ditemukan terapung di perairan Belitong – mulai dari jadi kuli tambang timah sampai melakukan berae (berdagang apa saja dengan cara membawanya ke pedalaman dengan motor), bahkan dicemooh dan dihina bahwa usahanya tak kan mungkin berhasil.
Pada mozaik terakhir buku ini – Mozaik 73: Komidi Putar – terletak klimaksnya.
Lama bergaul dengan orang-orang Ho Pho, aku sedikit banyak paham metafor mereka. Jika seorang perempuan Ho Pho meminta seorang lelaki mencuri dirinya dari keluarganya, itu artinya ia bersedia dipinang.
Langsung kusampaikan pada Chung Fa. Ia senang. Katanya, ia tak kan menghalangiku. Sepanjang malam tak dapat kupicingkan mata untuk tidur. Karena untuk kali pertamanya dalam hidupku, aku disergap oleh satu kata sakti mandraguna yang tak terbilang banyaknya mengubah hidup orang di muka bumi. Dadaku berubah menjadi kaleng, dan kata itu berubah menjadi tawon yang terjebak berdengung-dengung dalam kaleng itu. Kata nan sakti itu adalah: menikah.
Terlalu cepatkah ini?
Tidak, bukankah aku telah mencintai perempuan Ho Pho ini seumur hidupku? Terlalu besarkah rencana ini sehingga aku tak mampu menanganinya? Tapi aku telah mengalami demikian banyak hal besar dalam hidupku, tak pernah aku sampai tak bisa menggambarkan perasaanku seperti sekarang. Ketika ia hilang tak tahu rimbanya, aku juga telah mencarinya seakan seumur hidupku. Kata menikah benar-benar membuatku gugup. Karena terlalu besar cinta, demikian besar, sehingga sulit dipercaya kata ajaib itu akhirnya menghampiriku.
Aku dilanda perasaan senang yang tak terjelaskan Khayalan-khayalan fantastik tentang menikah dan rumah tangga menyerbuku. Aku telah jadi orang ayng berbeda. Sungguh dahsyat akibat dari ide menikah ini. Di dalam kepalaku sekarang ada gambar-gambar, misalnya foto keluarga, beranda rumah, perempuan hamil, suara anak kecil, cangkir teh, orang sedang menyiram bunga, aneh, lucu, tapi indah.
Aku menatap mata A Ling dalam-dalam. Ia melihatku dengan cara bahwa ia tahu aku tak mungkin kehilangan dirinya, dan ia tahu, bahwa dalam matanya itu, aku telah menemukan diriku sendiri, seorang lain yang pula telah kucari-cari sepanjang hidupku. Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa dari seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekspedisi hidupku. Di dalam kedua mata itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudra, mengarungi padang, dan melawan angin, telah mencapai tujuannya. Aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta. Kini tak ada hal lain yang kuinginkan selain mencari nafkah dekat-dekat rumah saja, lalu segera pulang untuk perempuan ini, seseorang yang aku ingin memakai namaku di belakang namanya, seseorang yang ingin kulihat kali terakhir jika aku berangkat tidur dan kulihat kali pertama jika aku bangun.
Dalam mozaik Budaya Warung Kopi tergambar dengan jelas kebiasaan bertaruh masyarakat setempat. Settingnya adalah Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi milik Syamsiar yang dalam sehari dapat menyediakan sekian ratus cangkir kopi – mungkin Starbucks saja kalah. *senyum* Taruhan adalah hal serius – dicatat pemilik warung kopi selaku administrator pertaruhan. Begitu ramai dan runyam taruhan, bentuknya sudah semacam matriks yang rumit, semacam labirin sehingga Syamsiar, pemilik Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi, mesti membuat catatan khusus siapa menaruh siapa. Syamsiar belakangan dijuluki Syamsiar Bond, karena jika tak punya uang boleh ngebon – ngutang – dulu minum kopi di warungnya, ia dibayar semata untuk memelihara administrasi taruhan itu. Lima ratus perak per taruhan dan dua persen dari pemenang taruhan uang.
Obyek taruhan kali ini adalah Ikal, apakah Ikal dapat membuat perahu tepat pada waktunya sebelum musim angin badai barat tiba, dan apakah untuk itu Ikal mampu mengangkat bekas perahu lanun jaman Pleistosen dari dasar sungai agar dapat mengambil kayu seruk di lambung perahu lanun itu.
Rofi’i Bruce Lee bertaruh jika Ikal berhasil maka ia siap memecahkan buah kemiri dengan cara memukulnya, pakai jidat. Dalam pada itu, A Ngong menantang A Tong. Taruhannya, ia bersedia digunduli alisnya sebelah kalau aku bisa mengambil papan-papan seruk itu. Jika tak bisa, A Tong harus memberinya uang dan harus bersedia mengisap lima belas batang rokok linting tembakau Warning sekaligus. Mereka saling memegang telinga (catatan: tanda sepakat dan komit akan taruhan ini). Taruhan antara A Ngong dan A Tong sungguh seru-seru.
Dapatkah kaubayangkan orang bukan bertaruh dengan uang tapi hal-hal aneh dan unik – seperti bermalam di kuburan paling angker, menelan beberapa buah koin uang lima rupiah, menelan tiga butir bola pingpong, memakai helm siang dan malam selama empat hari, walaupun sedang mandi atau tidur dengan istrinya, mendekati sarang buaya, menyambut dengan tangan kosong buah duren yang jatuh dari pohonnya, memasukkan tawon mahkota emas yang sedang bertelur sehingga galaknya minta ampun ke dalam celana. Sungguh sadis bertaruh seperti ini. Dalam pertaruhan ini hanya orang Ho Pho yang tidak ingkar janji jika kalah, sementara orang Melayu akan berkelit sana-sini.
Sementara dalam hal humor juga terjadi segmentasi berdasarkan selera humor kelompok. Jika orang Melayu mampu tertawa terbahak-bahak maka orang bersarung sulit tertawa tapi punya jiwa komedi yang memikat.
Kelucuan bagi mereka, tak masuk akal siapapun. Termasuk di dalamnya komedi dangkal, spontan tanpa rencana, lugu dan menjadi lucu bukan karena substansi komedi itu, melainkan karena cara mengkomunikasikannya.
Misalnya, mereka menyamakan wajah kepala suku mereka dengan wajah ikan kerapu. Hal itu sangat lucu bagi mereka dan mereka tertawakan – hal yang sama itu – selama dua tahun. Atau, hanya karena temannya kebesaran kopiahnya, tengik bau sarungnya, atau terbalik menyalakan rokok, mereka bisa mentertawakannya berbulan-bulan. Kejadian-kejadian itu sebenarnya tak lucu, tapi lihatlah ketika mereka berkisah, siapapun akan tergelak. Lebih dari itu, sesungguhnya orang-orang bersarung adalah suku yang berbahagia sebab bisa gembira dari hal-hal yang sederhana.
Tak dinyana, suku Sawang, yang juga keras peri kehidupannya, sangar-sangar tampangnya, teguh garis wajahnya, tegas rahangnya, ternyata punya selera humor yang hebat.
Sore, usai membanting tulang, mereka mengelilingi juru-juru parodi mereka yang bergaya meniru-nirukan pidato pejabat yang mereka lihat di televisi. Atau berjoget riang menyaru para artis dangdut, sambil bernyanyi. Syairnya mereka ganti dengan frasa jenaka dari bahasa mereka sendiri, untuk menggoda temannya, merayu kekasihnya, atau menyindir majikan. Jarang di antara mereka yang sekolah tapi humor mereka humanis, santun, dan terpelajar.
Humor orang Ho Pho, lain pula. Komunitas ini jumlahnya kecil. Mereka turunan prajurit Ho Pho, tentara bayaran dari daratan Tiongkok, kongsi kumpeni dulu. Humor mereka agak ganjil, psikopatik, dan sering agak membahayakan.
Misalnya, mereka dengan sengaja memelihara anjing yang dari waktu ke waktu diberi makan kumbang hitam sehingga galaknya seperti Firaun. Jika mereka berburu mendapat babi hutan, sebelum babi itu dilungsurkan ke penggorengan, sang anjing didandani seperti seorang gladiator, diadu dengan babi hutan tadi, yang mereka dandani seperti kopral kumpeni. Babi hutan menguik-nguik, mereka terbahak-bahak di luar kandang.
Bentuk lain humor bagi subetnik Ho Pho yang uni itu adalah taruhan. Taruhan merupakan salah satu guyonan favorit mereka, dan taruhan mereka selalu gila-gilaan. Misalnya, zaman dulu, konon mereka mempertaruhkan istri dalam adu babi hutan melawan anjing itu.
Mereka bertaruh untuk mempertaruhkan hal-hal yang konyol, tak penting, dan tak masuk akal. Misalnya, jika Presiden berpidato di televisi, mereka taruhan berapa kali Presiden batuk. Mereka menyimak pidato Presiden dengan seksama tapi sama sekali tidak peduli dengan isi pidato. Suka-sukalah Presiden mau bicara apa, tak ada urusan dengan mereka. Mereka menghitung dengan teliti berapa kali Presiden batuk, yang kalah taruhan sungguh mengenaskan nasibnya, misalnya harus minum kecap campur spiritus, atau makan sertus cabe rawit mentah yang paling pedas dan setelah itu tak boleh minum selama sehari-semalam.
Hanya berdasarkan berapa merah rapor anaknya, mereka berani bertarh mengupas kelapa hanya dengan menggunakan gigi. Namun, mereka selalu gentleman. Jika sudah bertaruh, mereka konsekuen. Taruhan disepakati dengan cara saling memegang daun telinga. Berbeda dengan orang Melayu. Ketika membualkan taruhan sungguh luar biasa lagaknya, jika kalah, dan akan dituntut taruhannya, ia menghilang tak tahu kemana. Alasannya selalu, waktu itu ia hanya bercanda saja.
Memang ada cerita tentang Lintang dan Arai tapi buku ini lebih bersifat sebagai mozaik berbagai cerita tokoh-tokohnya. (Mungkin itu sebabnya kenapa setiap bab dalam buku ini tidak dinamakan bab nomor ke sekian tapi mozaik ke sekian.) Menurutku buku ini sungguh luar biasa – 73 mozaik dalam 504 halaman – karena dia mencatat dengan sangat rinci tentang pelajaran kehidupan, tentang kebiasaan-kebiasaan Melayu Dalam di Pulau Belitong dan pulau-pulau sekitarnya, tentang sekian ratus pulau yang terhampar di Laut Karimata, tentang hikayat lanun (perompak atau bajak laut) di Selat Malaka, tentang kekayaan berbagai etnis dengan semua tradisi dan kebiasaannya yang sudah berinteraksi dalam rajutan sosial budaya sejak beratus tahun lalu, tentang aplikasi ilmu yang sesungguhnya – dan tentunya tentang cinta yang tidak pernah padam dimakan waktu dan tak pupus walau telah melintasi beberapa benua.
Dan jangan kecewa ya, hanya ada sedikit cerita tentang Maryamah Karpov, nama perempuan yang menjadi judul bukunya. Tapi kenapa dia menjadi judul buku ini, dan kenapa ada sub judul ‘mimpi-mimpi Lintang’, kupikir aku tahu kenapa. Andrea memang cerdas! *senyum*
Dari 73 mozaik tadi ada mozaik-mozaik berjudul puitis, seperti: waktu terperangkap dalam stoples; perempuan itu tak menangis; bulan pecah, malaikat bertaburan; cintanya sedahsyat terjangan badai; dekat sekali seperti nyawa. Ada juga mozaik-mozaik berjudul lucu, seperti: lelaki berwajah dangdut, perempuan saraf tegang.
Nah, banyak memang cerita menarik di dalam buku ini, aku kutipkan beberapa disini. Kalau mau tahu semuanya, ya beli dong bukunya (cuma tujuh puluh sembilan ribu rupiah saja) … atau boleh kupinjami. *senyum*
Mozaik 28 dan 53 adalah mozaik yang menurutku lucu bukan kepalang, sampai berderai-derai airmataku membacanya. *senyum*
Orang setempat rupanya sangat kreatif dalam membuat julukan bagi orang-orang. Umumnya nama julukan lebih sering dipakai dan lebih dikenal daripada nama lahir orang-orang yang bersangkutan. [Hlm 177-178] Orang Melayu amat asosiatif dan metaforik, penuh perlambang dan perumpamaan. Hal itu terefleksi pada hobi mereka berpantun dan menjuluki orang. Meski Islam jelas melarang panggilan-panggilan yang buruk, mereka nekad saja. Gelar-gelar aneh itu umumnya ditujukan untuk menghina. Karena itu, setiap orang berusaha menghindarinya. Namun, julukan dalam masyarakat kami seumpama penyakit cacar. Bisa menimpa siapa saja sembarang waktu. Ia agaknya telah menjadi bagian dari nasib orang Melayu. Julukan dapat berangkat dari hal yang amat sederhana, misalnya ciri-ciri fisik, atau lebih kompleks, dari profesi, kebiasaan, obsesi, atau kejadian.
Misalnya ada yang punya julukan Eksyen, Nur Gundala Putra Petir, Rofi’i Bruce Lee, Marsanip Sopir Ambulans, Berahim Harap Tenang Yunior, Marhaban Hormat Grak II, Rustam Simpan Pinjam, Zainul Helikopter, Muslimat Rambo, Tancap bin Seliman, Muharam Ini Budi, Mustahaq Davidson, Mustajab Charles Martin Smith, Mursyiddin 363, Muas Petang 30, Mahdi Sheriff, Kamsir si Buta dari Goa Hantu, Jumiadi Setengah Tiang, Mahmuddin Pelupa, Daud Biduan, Saderi Karbon, Muharam Buku Gambar, Modin Mahligai, Munawir Berita Buruk, Makruf Bui Bc.I.P., Munaf Katakanlah Padanya, Ramlah Biduanita, A Liong Koteka / A Liong Sunat, Fatimah Petai Cina, Midah Sesak Napas. Menurut ceritanya, orang Melayu tak ragu menulis di batu nisannya nama-nama julukan itu ketika yang bersangkutan meninggal dunia. *senyum*
Whenever I stumbled upon a book or magazine that I like, as usual I would read it again. I read "You Can't Be A Smart Cookie If You Have A Crummy Attitude" by Dr. John C. Maxwell. Here are some quotes for you from this book:
I may not be able to change the world I see around me, but I can change the way I see the world within me. (John C. Maxwell)
Your attitude determined your action. Your action determines your accomplishment. (John C. Maxwell)
Life's battles don't always go to the stronger or faster man, but sooner or later, the man who wins is the man who thinks he can. (John C. Maxwell)
A successful man is one who can lay a firm foundation with the bricks others have thrown at him. (David Brinkley)
Whether you think you can or think you can't - you are right. (Henry Ford)
God chooses what we go through; we choose how we go through it. (John C. Maxwell)
A pessimist is a person who, regardless of the present, is disappointed in the future. (John C. Maxwell)
An optimist may see a light where there is none, but why must the pessimist always run to blow it out? (Michel de Saint-Pierre)
The greatest discovery of our generation is that human beings can alter their lives by altering their state of mind. (William James)
The greatest mistake a person can make is doing nothing. (John C. Maxwell)
Man's greatness lies in his power of thought. (Blaise Pascal)
Others can stop you temporarily, but you're the only one who can do it permanently. (John C. Maxwell)
We lost because we told ourselves we lost. (Leo Tolstoy)
The quality of a person's life is in direct proportion to their commitment to excellence, regardless of their chosen field of endeavor. (Vince Lombardi)
Nothing is as hard as it looks; everything is more rewarding than you expect; and if anything can go right it will and at the best possible moment. (Maxwell's Law)
I thank God for my handicaps, for through them, I have found myself, my work, and my God. (Helen Keller)
Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty. Anyone who keeps learning stays young. (Henry Ford)
I expect the best and with God's help will attain the best. (Norman Vincent Peale)
You never get ahead of anyone as long as you try to get even with them. (John C. Maxwell)
Wars may be fought with weapons, but they are won by men. It is the spirit of the men who follow and the man who leads that gains victory. (General George S. Patton)
Every change in human attitude must come through internal understanding and acceptance. Man is the only known creature who can reshape and remold himself by altering his attitude. (John C. Maxwell)
Always do more than is required of you. (General George S. Patton)
A positive mental attitude is rooted in clear, calm, and honest self-confidence. (John C. Maxwell)
Man who say it cannot be done should not interrupt man doing it. (Chinese proverb)
99% of failures come from people who have the habit of making excuses. (George Washington Carver)
Of all the things you wear, your expression is the most important. (John C. Maxwell)
Many intelligent people never move beyond the boundaries of their self-imposed limitations. (John C. Maxwell)
Your attitude speaks so loudly that I can't hear what you say. (John C. Maxwell)
To the discontented man no chair is easy. (Benjamin Franklin)
Become a possibilitarian. No matter how dark things seem to be or actually are, raise your sights and see possibilities - always see them, for they're always there. (Norman Vincent Peale)
Leadership has less to do with position than it does with disposition. (John C. Maxwell)
It is your actions and attitude when you are on your own that reflect what you really are. (Martin Vanbee)
Enthusiasm and persistence can make an average person superior; indifference and lethargy can make a superior person average. (William Ward)
True greatness consists in being great in little things. (Charles Simmons)
We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act but a habit. (John C. Maxwell)
Anybody who accepts mediocrity - in school, on the job, in life - is a person who compromises, and when the leader compromises, the whole organization compromises. (Charles Knight)
Don't Let Yourself...
WORRY when you're doing your best.
HURRY when success depends on accuracy.
THINK evil of anyone until you have the facts.
BELIEVE a thing is impossible without trying it.
(Andrew Carnegie)
Attitude
It is the "advance man" of our true selves.
Its roots are inward but its fruit is outward.
It is our best friend or our worst enemy.
It is more honest and more consistent than our words.
It is an outward look based on past experiences.
It is a thing which draws people to us or repels them.
It is never content until it is expressed.
It is the librarian of our past.
It is the speaker of our present.
It is the prophet of our future.
(John C. Maxwell)
At a quarter past twelve at noon I rushed back home. Before I reached home I called her to drive to my place right away, so we could go once I arrived at home.
I did want to watch this movie since I was in Toronto couple months ago, but didn’t have the chance then. So, when Yani asked me to go with her to watch this movie, I said ‘yes’ immediately.
The movie starts and ends with ABBA’s song titled “I Have A Dream”. The movie is heavily sprinkled with ABBA’s songs including many of my favorites: “Dancing Queen”, “Lay All Your Love On Me”, “Take A Chance On Me”, “Slipping Through My Fingers”, “Thank You For The Music”, “Honey, Honey”, and of course “Mamma Mia”. Oh, I love most of their songs! This is a movie that you can either watch with your family and friends or by yourself – and you can’t help but sing a long with it. My mom even said that she would go with me if I want to watch this movie again. *smile*
This is the synopsis of the movie according to The Internet Movie Database: The story of a bride-to-be trying to find her real father told using hit songs by the popular '70s group ABBA. Read more…
Meryl Streep performed as Sophie’s mother, Donna Sheridan, superbly. We can see that she looks natural as a woman and mother – with the thinning hair and the wrinkle. It's also hilarious to see Donna singing with her friends or just keeping each other company. We're always in our true elements when we're with our good friends! All major characters in the movie sing the songs themselves. Yet, it’s so weird to hear Pierce Brosnan sings as Sam Carmichael, the architect, Sophie’s possible dad No. 1, because I still have the image of him as James Bond. *smile*
Meryl said her daughter wondered why she took this role – so different from all roles she played in the past. Well, who doesn’t fall in love with all ABBA’s songs if one’s growing up with these songs?
If I have a critique, it’s just one… if Donna meets all three men during the flower power era and Sophie is twenty years old when she gets married, then why the movie looks more like it’s in its 2000’s era than in its 1980’s era?
I Have A Dream
Written by: Benny Andersson & Björn Ulvaeus
Recording began 15th March 1979 at Polar Music Studios, Stockholm
Lead vocal: Frida (Anni-Frid Lyngstad)
I have a dream
a song to sing
to help me cope
with anything
if you see the wonder
of a fairy tale
you can take the future
even if you fail
I believe in angels
something good in
everything I see
I believe in angels
when I know the time
is right for me
I’ll cross the stream
I have a dream
I have a dream
a fantasy
to help me through
reality
and my destination
makes it worth the while
pushing through the darkness
still another mile
I believe in angels
something good in
everything I see
I believe in angels
when I know the time
is right for me
I’ll cross the stream
I have a dream
More about Mamma Mia! The Movie
Mamma Mia! Movie Locations – if you are interested and would like to go there…
I know it’s not easy to make a best seller book into a movie. I was a bit disappointed when I watch the movie because it lacks the rich patina that I read in the book and some twists that are not in the book.
For example:
- There’s no Mahmud character – one of PN Timah’s teachers that likes and sympathizes with Bu Mus, played by Tora Sudiro – in the book.
- Pak Harfan, SD Muhammadiyah’s principal, attended the Intelligence Contest and was not died before the contest.
- There’s no Pak Zul character – a close friend of Pak Harfan that’s used to help Pak Harfan and the school – in the book.
- Lintang was late for school because he met a crocodile on his way to school. But the movie moves this event to the contest day.
- It’s the Ikal-Lintang-Sahara trio that represented SD Muhammadiyah in the contest and not Ikal-Lintang-Mahar.
Riri Riza admitted that it’s not easy to capture the book’s mosaic into a 125-minute movie but he tried to capture the main message of this movie: the wonder of the dream, the marginalization of people, and the irony of our education.
The movie is very well made technically – the original Belitong landscape, the children that play and blow the life of Ikal, Lintang, Mahar, Syahdan, Borek, Kucai, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Flo, A Ling, their families and communities, the soundtrack – but it is somewhat short of the intensity of the main plot. I agree with Dahono Fitrianto in Hasrat Bertutur “Laskar Pelangi” that it can be more powerful if it gives more substance to Lintang – the genius that beat the odds to go to and to stay in school and be the pride of the school and his friends but had to cancel his dream because he had to be the only breadwinner for his 13 other family members after his father died.
For me the most lovable part of the movie is the “Kembang Seroja” - when Mahar leads the members of Laskar Pelangi to cheer up Ikal that's heart broken after A Ling left for Jakarta. (“Kembang Seroja” is one of the old and famous Malay songs.)
Overall, it’s a good and touching movie – much better than other Indonesian’s movies that are far from reality. Pak Harfan's speech to these students is very powerful and is still lingering on... 'hidup berarti hanya dengan banyak memberi bukan dari banyak meminta'.
The official “Laskar Pelangi” The Movie website.
Sekarang hari Kamis, sudah empat hari Lintang tak muncul juga. Aku melamun memandangi tempat duduk di sebelahku yang kosong. Aku sedih melihat dahan filicium tempat ia bertengger jika kami memandangi pelangi. Ia tak ada disana. Kami sangat kehilangan dan cemas. Aku rindu pada Lintang.
Kelas tak sama tanpa Lintang. Tanpanya kelas kami hampa kehilangan auranya, tak berdaya. Suasana kelas menjadi sepi. Kami rindu jawaban-jawaban hebatnya, kami rindu kata-kata cerdasnya, kami rindu melihatnya berdebat dengan guru. Kami juga rindu rambut acak-acakannya, sandal jeleknya, dan tas karungnya.
Bu Mus kesana-sini mencari kabar dan menitipkan pesan pada orang yang mungkin melalui kampung pesisir tempat tinggal Lintang. Aku cemas membayangkan kemungkinan buruk. Tapi biarlah kami tunggu sampai akhir minggu ini.
Senin pagi, kami berharap menjumpai Lintang dengan senyum cerianya dan kejutan-kejutan barunya. Tapi ia tak muncul juga. Ketika kami sedang berunding untuk mengunjunginya, seorang pria kurus tak beralas kaki masuk ke kelas kami, menyampaikan surat kepada Bu Mus. Begitu banyak kesedihan kami lalui dengan Bu Mus selama hampir sembilan tahun di SD dan SMP Muhammadiyah tapi baru pertamakali ini aku melihatnya menangis. Air matanya berjatuhan di atas surat itu.
Ibunda guru,
Ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.
Salamku, Lintang.
Seorang anak laki-laki tertua keluarga pesisir miskin yang ditinggal mati ayah, harus menanggung nafkah ibu, banyak adik, kakek-nenek, dan paman-paman yang tak berdaya. Lintang tak punya peluang sedikitpun untuk melanjutkan sekolah. Ia sekarang harus mengambil alih menanggung nafkah paling tidak empat belas orang, karena ayahnya, pria kurus berwajah lembut itu, telah mati, karena pria cemara angin itu kini telah tumbang. Jasadnya dimakamkan bersama harapan besarnya terhadap anak lelaki satu-satunya dan justru kematiannya ikut membunuh cita-cita agung anaknya itu. Maka mereka berdua, orang-orang hebat dari pesisir ini, hari ini terkubur dalam ironi.
Di bawah pohon filicium kami akan mengucapkan perpisahan. Aku hanya diam. Hatiku kosong. Perpisahan belum dimulai tapi Trapani sudah menangis terisak-isak. Sahara dan Harun duduk bergandengan tangan sambil tersedu-sedu. Samson, Mahar, Kucai, dan Syahdan berulang kali mengambil wudhu, sebenarnya dengan tujuan menghapus air mata. A Kiong melamun sendirian tak mau diganggu. Flo, yang baru saja mengenal Lintang dan tak mudah terharu tampak sangat muram. Ia menunduk diam, matanya berkaca-kaca. Baru kali ini aku melihatnya sedih.
Ini adalah kisah klasik tentang anak pintar dari keluarga melarat. Hari ini, hari yang membuat gamang seorang laki-laki kurus cemara angin sembilan tahun yang lalu akhirnya terjadi juga. Lintang, sang bunga meriam ini tak kan lagi melontarkan tepung sari. Hari ini aku kehilangan teman sebangku selama sembilan tahun. Kehilangan ini terasa lebih menyakitkan melebihi kehilangan A Ling, karena kehilangan Lintang adalah kesia-siaan yang mahabesar. Ini tidak adil. Aku benci pada mereka yang berpesta pora di Gedong dan aku benci pada diriku sendiri yang tak berdaya menolong Lintang karena keluarga kami sendiri melarat dan orangtua-orangtua kami harus berjuang setiap hari untuk sekadar menyambung hidup.
Ketika datang keesokan harinya, wajah Lintang tampak hampa. Aku tahu hatinya menjerit, meronta-ronta dalam putus asa karena penolakan yang hebat terhadap perpisahan ini. Sekolah, kawan-kawan, buku, dan pelajaran adalah segala-galanya baginya, itulah dunianya dan seluruh kecintaannya. Suasana sepi membisu, suara-suara unggas yang biasanya riuh rendah di pohon filicium sore ini lenggang. Semua hati terendam air mata melepas sang mutiara ilmu dari lingkaran pendidikan. Ketika kami satu-persatu memeluknya tanda perpisahan, air matanya mengalir pelan, pelukannya erat seolah tak mau melepaskan, tubuhnya bergetar saat jiwa kecerdasannya yang agung tercabut paksa meninggalkan sekolah.
Laskar Pelangi by Nidji
mungkin adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
telah hilang
tanpa lelah sampai engkau
meraihnya
laskar pelangi
takkan terikat waktu
bebaskan mimpimu di angkasa
raih bintang di jiwa
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
cinta kepada hidup
memberikan senyuman abadi
walau ini kadang tak adil
tapi cinta lengkapi kita
laskar pelangi
takkan terikat waktu
jangan berhenti mewarnai
jutaan mimpi di bumi
menarilah dan terus tertawa
walau dunia tak seindah surga
bersyukurlah pada yang kuasa
cinta kita di dunia
selamanya…
The movie will be played in all cinemas in Indonesia starting on September 25, 2008. Go and watch the movie, I bet it will touch your heart.
Thank you, Andrea, for sharing this part of your life with us – let’s show the world that Indonesia doesn’t lack of genius but lack of opportunity for the marginalized people. It’s our mission to improve this condition – I hope thirty years from now I won’t see another Andrea on TV showing the same condition in Indonesia.
Semangat!
Tuhan menakdirkan orang-orang tertentu untuk memiliki hati yang terang agar dapat memberi pencerahan pada sekelilingnya. Dan di malam yang tua dulu ketika Copernicus dan Lucretius duduk di samping Lintang, ketika angka-angka dan huruf menjelma menjadi kunang-kunang yang berkelap-kelip, saat itu Tuhan menyemaikan biji zarah kecerdasan, zarah yang jatuh dari langit dan menghantam kening Lintang.
Sejak hari perkenalan dulu aku sudah terkagum-kagum pada Lintang. Anak pengumpul kerang ini pintar sekali. Matanya menyala-nyala memancarkan intelegensi, keingin-tahuan menguasai dirinya seperti orang kesurupan. Jarinya tak pernah berhenti mengacung tanda ia bisa menjawab. Kalau melipat dia paling cepat, kalau membaca dia paling cepat. Ketika kami masih gagap menjumlahkan angka-angka genap ia sudah terampil mengalikan angka-angka ganjil. Kami baru saja bisa mencongak, dia sudah pintar membagi angka desimal, menghitung akar, dan menemukan pangkat, lalu, tidak hanya menggunakan, tapi juga mampu menjelaskan hubungan keduanya dalam tabel logaritma. Kelemahannya, aku tak yakin apakah hal ini bisa disebut kelemahan, adalah tulisannya yang cakar ayam tak keruan, tentu karena mekanisme motorik jemarinya tak mampu mengejar pikirannya yang berlari sederas kijang.
Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tak punya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak akan ada habis-habisnya.
Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, celana, dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh kuasa Allah, di dalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rangkaian kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kecemerlangan pemikiran yang gilang gemilang. Dibalik tubuhnya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutely beautiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir di sebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari sebuah keluarga yang tak satupun bisa membaca.
continued to Laskar Pelangi (4 of 4)